KENANGA LARAS, HARMONI KARAWITAN YANG MENYATUKAN TIGA GENERASI

Administrator 13 Agustus 2026 10:13:44 WIB

Di tengah derasnya arus modernisasi, alunan gamelan masih terus terdengar dari Tegalkenongo, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. melalui Paguyuban Karawitan Kenanga Laras, seni tradisi tidak hanya tetap hidup, tetapi juga menjadi wadah pelestarian budaya lokal sekaligus sebagai ruang kebersamaan bagi masyarakat yang mempererat kebersamaan warga lintas generasi. Hal ini dikarenakan terdapat 3 generasi pada kelompok karawitan ini yakni sepuh, pemuda, dan anak-anak.

Kelompok karawitan Kenanga Laras berdiri pada tahun 2006. Seiring berjalannya waktu, kelompok ini mulai berkembang dengan memperluas jejaring dan aktif mengikuti berbagai pementasan sejak tahun 2014. Bahkan, semangat anggota untuk memperkenalkan karawitan tidak bergantung pada imbalan. Kesempatan tampil di berbagai acara dimanfaatkan sebagai upaya mengenalkan Kenanga Laras kepada masyarakat yang lebih luas.
Dalam menjalankan berbagai kegiatannya, Paguyuban Karawitan Kenanga Laras dipimpin oleh Ardian Muharto serta mendapat pendampingan dari para pembina, yaitu Sutarta, S.Sn., Nika Yunianingsih, S.Sn., S.Pd., dan Dewangga. Para pembina berperan dalam mendampingi proses latihan, mengembangkan kemampuan anggota, serta mendukung keberlangsungan paguyuban sebagai salah satu wadah pelestarian seni karawita
Perjalanan kelompok ini juga diwarnai semangat gotong royong masyarakat. Pada masa awal berdiri, anggota Kenanga Laras harus berpindah-pindah tempat latihan karena belum memiliki seperangkat gamelan sendiri. Melalui bantuan serta iuran warga, pada tahun 2015 kelompok ini akhirnya dapat memiliki seperangkat gamelan berbahan besi yang hingga kini digunakan sebagai sarana latihan. Berbekal semangat tersebut, Kenanga Laras berhasil tampil dalam berbagai kesempatan, termasuk pada pementasan di kawasan Prambanan selama dua tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2016 dan 2017. Selain itu pada 24 juli 2026 mereka menjalani pentas di Taman Budaya Yogyakarta dalam acara Festival Dalang Anak dan Remaja Provinsi Yogyakarta.
Saat ini latihan rutin dilaksanakan setiap Minggu malam. Menjelang pementasan, latihan difokuskan pada yang akan menjalani pementasan yang saat ini diikuti oleh campuran antara anggota generasi sepuh dan pemuda. Sebenarnya latihan ini dilakukan secara bergilir di tiap generasinya. Akan tetapi kelompok ini mengalami tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi kehadiran anggota muda yang mulai disibukkan oleh pekerjaan ataupun yang lainnya, serta penyesuaian jadwal latihan bagi anggota anak-anak dengan pelatih yang memiliki kesibukan lain.

Menurut anggota muda Kenanga Laras, semangat para anggota menjadi kunci utama yang membuat paguyuban ini mampu bertahan hingga sekarang.
"Yang membuat Kenanga Laras tetap bertahan adalah semangat bapak dan ibu yang mengikuti paguyuban ini. Kalau semangat itu hilang, paguyuban tentu tidak akan bisa bertahan," tuturnya.
Hingga kini, Kenanga Laras telah memiliki seperangkat gamelan yang lengkap berbahan besi. Ke depan, kelompok ini berharap dapat memperoleh dukungan untuk memiliki gamelan berbahan perunggu sehingga kualitas sarana yang dimiliki dapat terus berkembang dan mendukung keberlangsungan kegiatan karawitan di Tegalkenongo

Lebih dari sekadar kelompok seni, Kenanga Laras memiliki peran sosial dalam mempererat hubungan antarwarga. Melalui kegiatan latihan yang rutin dilaksanakan, kelompok ini menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat lintas generasi. Kebersamaan tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membuat Kenanga Laras tetap bertahan hingga saat ini.
Bagi generasi muda, bergabung di Kenanga Laras tidak hanya berarti belajar memainkan gamelan, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap komunitas. Salah seorang anggota muda mengungkapkan bahwa dirinya tetap berusaha aktif mengikuti latihan meskipun memiliki kesibukan pekerjaan.
"Di Kenanga Laras saya belajar banyak hal, tidak hanya berlatih karawitan tetapi juga kebersamaan. Saya menganggap Kenanga Laras sebagai keluarga kedua saya. Walaupun kesibukan semakin meningkat, saya akan tetap meluangkan waktu untuk aktif di paguyuban ini karena saya merasa banyak memperoleh ilmu dari sini," ujarnya.
Harapan besar juga disampaikan agar Kenanga Laras tetap lestari dan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tegalkenongo.
"Harapan saya, semoga Kenanga Laras tetap bertahan di masa depan, siapa pun nanti yang menjadi penerusnya," pungkasnya.

Keberadaan Kenanga Laras menunjukkan bahwa seni tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkuat kebersamaan dan identitas masyarakat. Melalui semangat gotong royong dan regenerasi yang terus dijaga, Kenanga Laras menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Tegalkenongo. Selama semangat itu terus diwariskan, alunan gamelan akan tetap menjadi bagian dari identitas desa.(YAK)

 

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License